ITS Bina Madrasah/Pesantren Kuasai Robot dan Desain

Situbondo (Antara Jatim) – Bina Inovasi Bisnis dan Ventura (BIBV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya melakukan pembinaan terhadap siswa madrasah aliyah dan santri di Jawa Timur agar menguasai ilmu tentang robot, desain grafis dan pembuatan film pendek.

“Program kami bernama Prodistik atau Program Pendidikan Terapan Bidang Teknologi Informasi. Kami mendidik santri atau siswa madrasah untuk menguasai bidang-bidang itu selama lima semester,” kata salah seorang pendamping Prodistik Dr Hozairi, MT kepada Antara saat pelatihan robotik di Madrasah Aliyah (MA) Negeri 2 Situbondo, Jawa Timur, Minggu.

Ia menjelaskan bahwa setiap kabupaten dan kota dipilih satu madrasah atau pesantren yang dinilai memiliki keseriusan dan kesungguhan untuk menerima program dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) ITS yang membawahi BIBV itu.

Madrasah atau pesantren yang terpilih dalam Prodistik ITS kemudian memilih siswa kelas 1 untuk dididik menguasai robot, film pendek atau desai grafis, sesuai minatnya masing-masing. Prodistik menggunakan sistem kredit (seperti kuliah) yang harus diikuti selama lima semester oleh siswa. Siswa terpilih harus mengikuti pertemuan di sore hari selama dua kali dalam sepekan.

“Kami sebagai fasilitator dan pendamping datang ke sekolah itu. Setiap pertemuan berlangsung selama dua jam dan di akhir semester ada ujian tugas akhir. Sehingga lulusan Prodistik ini begitu lulus madrasah aliyah langsung memiliki sertifikat setara diploma satu,” kata dosen kelautan ITS ini.

Hozairi menjelaskan bahwa program itu dilakukan ITS untuk memberikan nilai tambah pada siswa lulusan madrasah aliyah atau pesantren, tanpa mengubah dan mengganggu sistem dalam pendidikan reguler yang selama ini sudah berjalan. Prodistik hanya bersifat tambahan bagi siswa yang memiliki minat dan serius mendalami salah satu dari tiga program itu.

Menurut survei, anak-anak madrasah atau pesantren sebanyak 60 persen melanjutkan kuliah dan selebihnya berhenti setelah lulus. Dengan ikut Prodistik mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi bisa memiliki bekal untuk memasuki dunia kerja. Dengan sertifikat Prodistik mereka lebih dipercaya dan diterima di dunia kerja, seperti perusahaan telekomunikasi, perbankan, usaha waralaba dan lainnya.

“Sementara kalau melanjutkan ke perguruan tinggi juga lebih mudah karena keterampilan itu sangat mendukung kemampuan akademik mereka,” kata pakar informatika kelautan asal Pamekasan, Madura, ini.

Ia menjelaskan program tersebut kini memasuki tahun ketiga dan sudah menerbitkan kepada sekitar 10.000 lulusan madrasah aliyah dan pesantren. Dari 10.000 sertifikat itu berasal dari 18 madrasah dan pesantren yang dibina sejak tahun 2012.

“Alhamdulillah lulusan program kami lebih dipercaya dibandingkan lembaga kursus. Kami memilih madrasah aliyah, bukannya SMK karena SMK sudah fokus di bidang sesuai jurusan, sementara madrasah aliyah masih dipandang sebelah mata,” katanya.

Untuk pembinaan ini ITS membagi sejumlah zone di Jatim, dan Hozairi bersama tiga dosen lainnya membawahi Zona 5, yakni Situbondo, Jember dan Lumajang. Setelah pelatihan di masing-masing zona, mereka akan diadu pada ajang Prodistik Robot Contest (PRC), 21 November 2015 yang akan diikuti 100 robot dari 25 sekolah di Jatim. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *